Friday, October 29, 2010

Hamba

Hamba,..
Berjalan mengarungi waktu,
Mendayung segumpal harapan,
Menyusuri jejak yang tak berujung,
Memapahku ke gerbang kegelisahan,
Di iringi mimpi yang terselubung duka,...

Hamba,...
Tertatih melawan arus,
Terjebak dilintasan kepentingan,
Mendengar dengusan nafas terakhir,
Yang menerogoh setiap kantong nurani,
Dan akhirnya tersesat di celah kehancuran,..

Hamba,..
Melihat tanah lapuk karna air mata,
Mendengar sayup dengusan nafas terakhir,
Menghirup bau amis darah yang tak berdosa,
Tawa kemenangan yang tidak berperikemanusiaan,
Bersumber dari hati-hati yang gersang,
Otak-otak yang tak bekerja sempurna,
Tangan-tangan yang bekerja tanpa arahan hati,
Suara-suara yang mencekram,..

Hamba,..
Hanyalah seorang perasa,
Yang menuliskan setiap rintahan hati,
Meneriakkan setiap tuntutan jiwa,..
Berkata “Lawan” terhadap ketidakadilan...

Created by Resthoe’2008

Tuesday, October 26, 2010

Sepotong Lagu Perjuangan

      Teringat beberapa waktu yang lalu. Aku duduk bersila di bawah pohon yang terletak di depan bangunan megah instansi pemerintah, sembari menghindari teriknya sinar sang penakluk kegelapan. Panas.. Dari jauh masih terlihat oleh ku setumpuk manusia yang semi antri menanti panggilan dari penerima berkas, bukti bahwa telah menjalani pendidikan yang lumayan.
Desak-desakkan mungkin bukan hal yang langka tentunya, dalam situasi seperti itu lebih pantas di katakan hobby..
      Seraut wajah cantik sedang sedang bertengger sekitar 15 kaki di dekat ku. Dengan muka gelisah, ia memeriksa kembali lamaran kerja yang telah disusunnya sebelum lamaran di buka untuk umum.
“Ada masalah Non,” sapaku
“Siapa sih,…?!!!” Jawabnya ketus.
Itu adalah contoh sikap yang di tunjukkan sebagian besar pelamar yang mengikuti lamaran kerja di sebuah instansi di kota ku. Sibuk. Seolah-olah waktu untuk menyapa dengan manis akan membawa dampak buruk bagi kesuksesan kariernya.
      Sambil membakar rokok kretek pujaan hati, tiba-tiba aku di kejutkan oleh sekelompok mahasiswa yang telah jenuh menjadi mahasiswa walaupun arti dari mahasiswa itu masih samar baginya. Dengan gaya manusia birokrasi mereka memasuki hiruk-pikuk pelamar yang makin lama makin mubazir. Seraya menyerahkan lamaran pekerjaan, salah seorang dari mereka berteriak dengan kerasnya: “Hidup mahasiswa…!!!
Semua mata tertuju kearahnya beberapa saat, dan kemudian aktivitas yang telah berjalan beberapa hari yang lalu diteruskan kembali.
      Aku tertawa terkekeh melihat kejadian barusan. Luar biasa, pemuda itu begitu semangat dan tetap mencintai identitasnya sebagai mahasiswa. Lalu, apakah itu sebuah kebanggaan ketika meneriakkan kata seperti itu di tengah kerumunan pelamar? Atau hanya menunjukkan identitas bahwa dirinya seorang aktifis kampus?
      Sangat menarik jika berbicara mengenai mahasiswa, karena mahasiswa adalah predikat yang amat "eksklusif". Disebut ekslusif karena mahasiswa adalah sosok yang istimewa dipandang dari sudut apapun dan dari manapun serta mempunya cerita yang istimewa dari masa ke masa, baik di Negara maju maupun di Negara berkembang begitu juga halnya dengan mahasiswa di Indonesia.
Dari berbagai sumber, gerakan mahasiswa telah mengalami banyak perubahan dan tak mungkin bertahan pada kondisi sebelumnya. Di mulai dari tahun 1966 yang merupakan kebangkitan mahasiswa secara nasional sampai pada tahun 1998 yang di tandai dengan Reformasi. Kesemuanya itu merupakan pembuktian bahwa mahasiswa selalu ada di setiap momen perubahan.
Lalu apakah itu berlaku sampai sekarang? Jelasnya bahwa petarung-petarung yang terdahulu telah menanggalkan almamaternya dan memasuki ruang politik. Kesatuan isu untuk menyajikan perubahan tidak tampak lagi. Semua di tutupi oleh kepentingan-kepentingan praktis yang menguntungkan satu pihak saja. Lagi-lagi yang jadi korban adalah rakyat yang berharap adanya perubahan dan yang lebih parahnya adalah kaum intelektual yang lugu, yang ikut-ikutan, dan tidak tahu menahu soal apa dan bagaimana inti persoalan. Akhirnya segala isu yang di usung mahasiswa menjadi bahan tertawaan rakyat jelata karena mudah di patahkan atau patah sendiri ditengah perjuangan.
      Kemudian muncul suatu inspirasi baru dimana mahasiswa harus membuat perubahan. Bukan untuk siapa, akan tetapi untuk diri sendiri. Ada sejumlah ocehan yang menikam ketika itu di ilhami maknanya.
  1. Teriakan berantas kebodohan, menggelikan ketika keluar dari mulut mahasiswa bodoh! 
  2. Mahasiswa pemalas yang tidak bebas dari penyakit finansial, absurd ketika berteriak bebaskan rakyat dari kemiskinan!
  3. Mahasiswa koruptor jam kuliah, tidak pantas berteriak berantas korupsi!
      Sungguh itu merupakan suatu pencerahan (bukan maksud menyindir) bagi mahasiswa. Untuk berpikir lebih maju, tidak dimamfaatkan oleh berbagai pihak dan jelas menghindari trauma history pengkhianatan yang terjadi.
      Perjuangan sekarang sepertinya tidak terlalu membutuhkan aksi turun ke jalan (demontrasi) karena hal itu merupakan formalitas gerakan yang menggambarkan tekanan nyata dan tentunya peluang untuk memanfaatkan kearah yang salah juga ada. Tapi yang lebih efektif saat ini adalah menuangkan pikiran-pikiran yang berisikan perubahan ke dalam sebuah tulisan dan membagikannya kepada rekan-rekan pejuang lainnya. Selain itu, berhubung jalur internet sudah mulai merakyat, maka disitulah ruang pertarungan yang lebih nyata dimana kita mencoba menyajikan tulisan-tulisan kritis dengan bebasnya dan memberikan tanggapan-tanggapan positif di setiap blog yang menyajikan wacana perubahan.
Ada 3 dasar pemikiran yang bisa menjadi dasar pergerakan mahasiswa.

  1. Perdjoeangan yang mahasiswa lakukan adalah untuk memberi manfaat bagi rakyat. Semua itu bukan bertujuan untuk jalan kita menuju senayan (menjadi anggota DPR), jalan kita menjadi pejabat, jalan kita mendapatkan uang secara instan, atau jalan-jalan berpamrih lain yang membuat kita tidak ikhlash 
  2. Ucapan menjadi bermakna ketika kita juga bergerak melakukan perubahan dan memberi contoh yang nyata. Think globally but act locally.
  3. Kembalikan perdjoeangan ke karakter dan kredo mahasiswa yang sebenarnya. Mahasiswa adalah akademisi, pemikir muda, intelektual muda, entrepreneur muda dan agen perubahan bangsa. Baca kembali dengan detail semua visi, misi dan kredo organisasi pergerakan mahasiswa kita, pasti selalu menyebut masalah intelektualitas, jiwa pemikir dan kekuatan akademik lain. Karena itulah akar dan dasar kita bergerak.
      Masih tetap pada kisah pelamaran diatas, aku mau menyampaikan bahwa mahasiswa seharusnya lebih berpikir kreatif untuk menciptakan cikal bakal lapangan pekerjaan untuk rakyat.
Sayangnya, keadaan berbalik arah. Sepertinya menjadi pegawai di instansi pemerintah merupakan hal yang sangat menjanjikan dan mampu mengangkat derajat keluarga. Lalu bagaiman cita-cita perubahan yang di impikan dapat tercapai?
      Sebuah filosofi yang telah saya ubah sebagian kalimatnya, menyadarkan aku yang menyatakan “ menjadi sapu memang kotor tetapi mampu membersihkan berbagai kotoran”. Saya hanya berharap bahwa rekan-rekan juang yang memasuki ruang institusi tersebut mampu membuat sesuatu perubahan yang menguntungkan massa rakyat. Gejolak antara mampu atau tidak membuat perubahan memang sering dijadikan pertentangan karena terikat dengan sistem yang ada. Akhirnya aku hanya mampu katakan bahwa selamat menikmati kepada rekan-rekan juang yang terikat dan terpengaruh atau yang ikut dalam sistem yang telah di buat sejak dulu. Ucapkan selamat tinggal terhadap kalimat-kalimat pergerakan masa lalu. Tetaplah bertahan sobat ketika engkau bertahan karena tujuan untuk membuat perubahan.
Jangan katakan tulisan ini benar atau salah, tetapi buktikan apakah tulisan ini bermanfaat atau tidak.
“Untuk memerdekakan badan, terlebih dahulu merdekakan hati dan pikiran”

Ilusi

Hufft,..
Lagi-lagi ku terpojok,
Disetiap sudut keheningan,
Di akhiri oleh desah kehancuran,
Tertawa, terbahak,..
Mengelabui kenyataan yang ada,
Adakah kemunafikan?
Adakah jawaban disetiap tetes air mata?
Banyak dorongan,..
Pemicu semangat,...
Rasa manja tentunya tak mudah dilepaskan,
Berlari menjauhi kegetiran yang menjamur,
Mengharap tawa sumbang dari setiap topeng,
Dapat jawabankah?
Tidak, tidak...
Itu hanyalah ilusi,..
Aku hanya melihat bibirnya tersenyum,
Tapi bukan untukku
Aku melihat matanya berkaca-kaca,
Tapi bukan ketulusan
Aku merasakan sentuhan,
Bukan kasih sayang,..

Lagi-lagi aku terpojok,..
Di setiap lembah keterpurukkan,..
Aku seorang petarung,..
Tapi bukan untuk dipertaruhkan...

Created by Resthoe’2009

Aq dan Perasaan

Terselubung di antara gelisah,
Dihantui oleh bayang-bayang,
Terus berharap...
Fatamorgana yang selalu terlihat,
Mampu ragaku merasakannya,...

Hancur, remuk...
Fatamorgana pun hilang bersama derasnya hujan,
Menyapu segala harapan,
Pupus sudah bangunan pasir ku,
Ditelan oleh acuhnya gelombang,..

Tertatih kakiku melangkah,
Merakit kembali beberapa hal yang terlupakan,
Menatap kosong ke depan,
Terus berharap,...

Created by Resthoe’2008

Dek

Sabar Dek,...
Biarkan aku merangkai kata,
Tuk meluluhkan hatimu,
Biarkan aku memakai topeng,
Agar dirimu tertipu dengan wajah ku,..
Itu semua kulakukan karena aku begitu menginginkanmu,..

Tenang Dek,..
Bersamaku, engkau kan aman selalu,..
Aku korbankan semua untuk mu,
Itu agar kau senang,
Dengan tubuh kekar ku,
Kau kan selalu kulindungi,
Jangan ragukan keberadaan ku,..
Karena itu tak perlu kau tau, tak perlu..

Mendekatlah Dek,..
Biarkan aku merengkuhmu,
Karena kata orang: “itu merupakan bukti cinta”..
Biarkan aku ambil apa yang menjadi bagianku,
Karena aku tlah berkorban untukmu,..

Tertawalah Dek,..
Sebelum engkau menangis,
Peluklah tubuh ku,
Dan yakinkanlah dirimu bahwa aku aku adalah milikmu selamanya,..
Itu sebelum aku berlalu,...

Maaf Dek,..
Waktuku telah habis denganmu,..
Aku harus pergi bersama dengan yang lain,..
Percayalah, kau kan selal kuingat,
Karena engkau hanyalah pelengkap bagiku,..
Manjakanlah dirimu dengan airmata,
Karena itu obat tuk mengikis rasa sesal,..

Dek,..
Ini adalah pengalaman dari seorang pejalan kaki,
Ini adalah pesan dari seorang perasa,..
Penyesalan selalu telat menghampiri,..
Berjaga-jagalah...


Created by Resthoe’2008

Friday, October 22, 2010

Resah

Hei..!!!
Tolong, jangan memukuliku dengan tatapan konyol….
Tak cukupkah goresan yang tlah terlewatkan???
Tidak,..tidak,…
Aku tidak akan berjanji satu hal…
Dan aku tak akan bersaing untuk beberapa hal...
Biarkan aku...
Aku tak akan berkecil hati karena hatiku tak mampu lagi untuk mengecil...
Juga tak akan berbesar hati, karena paru-paru ku akan repot mengurusi hatiku yang membesar...
Aku akan tetap bersila, menyantap hidangan kepedihan setiap saat...
Dan aku yakin, aku kan terbiasa seperti ini...

Risalah Hati

Aku tak menyangka ketika ungkapan itu muncul dari Mu…
Benar bahwa itu adalah kerinduan-Mu..
Aku tahu kepedihan itu selalu menjadi sarapan-Mu,...
Dan akhirnya menjadi jarum yang menggerogoti hati-Mu yang paling dalam...
Sudahlah,...
Aku tahu bahwa sangat sulit untuk mencapai puncak impian-Mu,..
Tapi semangatku tak akan luntur,...
Seiring dengan desah nafas-Mu yang memicu nadiku...
Biarkan aku berjalan selaju doa-Mu...
Percayalah, aku punya impian yang tak kalah megahnya dengan yang lain..
Bahagiakan-Mu adalah tujuan hidupku..
Ketika maut pun menjemputku,.. aku tak akan sembunyi...
Aku akan menghadangnya dengan sejuta pertanyaan dan tentunya pernyataan yang jujur..
Atau kalau boleh, aku akan naik banding ketika itu harus...
Berjanjilah engkau akan setia memagariku dengan kasih-Mu
Dan yakinkan aku bahwa engkau tak akan pergi manakala aku tertidur pulas...
Atau ketika aku menangis, engkau kan berlalu..
Biarkan mereka bicara, berbisik sekalipun...
Lepaskan pandang-Mu dari mereka yang berjalan dengan cepatnya...
Karena itu akan menyajikan perasaan suram dihati-Mu...
Sabar,...sabarlah..
Aku akan menyusul mereka kepuncak keberhasilan seperti yang kau inginkan...
Berikan aku waktu untuk itu..